Pada anak-anak permainan dapat dijadikan media untuk memperkenalkan berbagai nilai, juga untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya. Ini pun tidak kalah pentingnya. Di sana anak belajar melihat berbagai kemungkinan lain dan aktif mencari jalan keluarnya. Permainan ketika kecil dapat menjadi awal dari berbagai ide brilian dan profesi serius kelak.
Betapa banyaknya juara dunia, juga penemuan besar dan pekerjaan yang diminati berasal dari permainan anak-anak sederhana ketika kecil. Konon juara dunia, seperti Rudi Hartono, Susi Susanti, Andre Agassi belajar kenal dan timbul minatnya dengan permainan itu ketika kecil diajak bermain dengan orangtuanya dalam suasana menyenangkan.
James Watt, penemu mesin uap, awal minatnya tumbuh sebab ketika masih kecil sering diperbolehkan masuk dapur dan memperhatikan ibunya ketika masak. Ia memperhatikan ketel ibunya yang bergerak-gerak ketika air mendidih dan tertarik pada kekuatan uap itu. Dr Kurt Semm, pelopor operasi dengan bedah minimal (MIS, minimal invasive surgery), yang telah banyak menciptakan berbagai alat yang sangat berguna buat ilmu kedokteran, dirintis sejak usia sembilan tahun.
Ketika ayah James Watt yang insinyur memberikan si bocah semacam mesin bubut, sang ayah mengajarkan menggunakan alat itu dan membuat benda-benda kecil. Pada umur sebelas tahun, si buyung lebih suka membuat sendiri mainannya, ketimbang membeli produk jadi. Sikap untuk membuat sendiri berbagai benda yang diperlukan ini ada terus padanya. Ketika menjadi dokter ia membuat berbagai peralatan dalam laboratorium dan buat keperluan membedah pasien yang sangat inovatif, yang sekarang digunakan secara meluas didunia.
Untuk melengkapi permainan, anak pun dapat ditambah dengan bacaan menarik. Dari si kancil yang cerdik sampai pengalaman para tokoh dunia dan tokoh moral, seperti para Nabi. Banyak buku cerita yang baik dari berbagai negara yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, kunci dari keberhasilan si kecil adalah sikap orangtua yang mampu menumbuhkembangan minat, dan menciptakan suasana baginya buat berusaha mencapai yang (paling) baik.
Kalaupun ia belum berhasil, orangtua tidak menghukumnya dengan kritik dan celaan, baik kata-kata maupun bahasa badannya. Tetapi orangtua mampu menghargai proses ketika si bocah berlatih, belajar, berusaha mencapai hasil yang baik. Ketika anak menang, orangtua mudah menghargainya, tetapi di saat gagallah anak paling membutuhkan sikap bijak kita, untuk tidak membuat dia patah hati dan mau tetap berusaha buat mencoba lagi. Orang sini bilang kekalahan hanyalah lost a battle but not the war.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar